Legenda Malin Kundang: tentang Kedurhakaan dan Kultur Pelaut Austronesia

Legenda Malin Kundang: tentang Kedurhakaan dan Kultur Pelaut Austronesia

Disini saya tidak akan menceritakan Legenda Malin Kundang yang durhaka. Anda bisa temukan legenda ini di website lain. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa pendapat saya mengenai legenda ini.

Cindy Yoseffa
Cindy Yoseffa
• 18 min read

Legenda Malin Kundang yang berasal dari cerita rakyat Minangkabau (Photo by: holobis.net) di Sumatera Barat, merupakan salah satu legenda yang cukup terkenal di daerah Asia Tenggara. Sebagai orang Minang, saya sangat sering mendengar cerita ini. Ditambah dengan budaya merantau dari Minang, membuat cerita ini menjadi cerita yang selalu mengeringi saya dalam perantauan.

DAFTAR ISI

Durhaka di Legenda Malin Kundang

Disini saya tidak akan menceritakan Legenda Malin Kundang yang durhaka. Anda bisa menonton legenda ini disini. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa pendapat saya mengenai legenda ini. Legenda ini sering diceritakan dikeluarga saya. Terkadang di kalangan masyarakat Minang, legenda ini dijadikan patokan, kalau anak tidak berperilaku seperti yang orang tuanya inginkan, alias anak durhaka.

Saya sering sekali mempertanyakan hubungan Malin Kundang dan Ibu-nya yang menurut saya tidak sehat. Karena sering kali, saya mendengar dari lingkungan Minang saya, kalau kita tidak boleh durhaka layaknya Malin Kundang. Bisa dibilang anak menjadi kambing hitam di legenda ini. Ini tidak adil, karena anak bisa disalahkan, tapi ibu tidak boleh disalahkan. Jadi disini ada ketidak seimbangan kekuatan. Ibu yang mempunyai kekuatan lebih besar terhadap anak, tidak seharunya menindas anak. Karena orang yang kuat adalah orang yang menolong yang lemah dan bukan menekan yang lemah.

Kalau ada anak durhaka, tentu  juga ada Ibu durhaka, bukan?

Gugatan terhadap Siti Rubayah (Ibu Malin Kundang)

Ketika Malin Kundang yang sukses di rantau pulang ke kampung halamannya, dia tidak mengenali Ibunya yang sudah tua dan miskin. Tentu hal ini sangat menyakitkan bagi seorang Ibu pada zamannya, dimana Internet (Video Call, WhatsApp, Facebook dan Instagram) tidak ada. Hal ini tentu menjadi hal yang sangat perih, karena ditambah dengan kerinduan yang mendalam terhadap anaknya. Bertahun-bertahun sang Ibu tidak mengetahui sedikitpun tentang anaknya yang merantau dengan kapal besar.

Ekspektasi Tinggi dari Orang Tua

Menurut saya seharusnya, Siti Rubayah tidak berekspektasi tinggi kalau anaknya pulang ke kampung halaman. Atau bisa dikantakan meromantisasikan kepulangan anaknya. Anaknya saja sudah mandiri dan masih hidup, menurut saya adalah karunia yang sangat besar. Banyak anak-anak yang sampai di usia tua tidak bisa mandiri dan masih bergantung kepada kedua orang tuanya. Jika anaknya harus sukses diperantauan, punya banyak teman, baik budi, baik jiwanya dan badannya sehat, itu merupakan ekspektasi yang tinggi atau bisa dikatakan ingin anaknya sempurna dengan bekal yang bisa dibilang tidak banyak dari Siti Rubayah. Kalau si Malin hidup dirantau dan terlindungi dari kesendirian atau depresi dan masih hidup, tanpa harus sukses, itu saja sudah merupakan karunia yang besar.

Kurangnya Keterampilan Berkomunikasi

Jika terjadi kesalah pahaman, seperti halnya di legenda ini, seharusnya Siti Rubayah berusaha berkomunikasi dengan anaknya. Kalau tidak bisa komunikasinya sehat secara pribadi, maka dia juga bisa meminta tolong dengan ketua adat setempat, agar bisa diadakan pertemuan. Jadi ada yang menengahi, atau bisa juga dibilang ada saksi. Saksi juga harus bisa berjanji untuk menjaga rahasia, tentang apa yang diperbincangkan Siti Rubayah dan Malin Kundang.

Memanjakan Anak = Merusak Anak dan Diri Sendiri?

Di dalam legenda diceritakan bahwa Malin Kundang sangat disayang oleh Ibunya. Sang Ibu saking sayang selalu menggendong Malin selagi bekerja (dikundang = digendong). Hal ini memberikan dinamika yang kurang sehat antara Siti Rubayah dan anaknya, karena kebahagiaan sang Ibu akhirnya hanya bergantung terhadap anaknya.

Merusak Anak: Karena Siti Rubayah terlalu bergantung terhadap Malin Kundang, bisa dipahami kalau Malin merasa terikat, karena dia merasa wajib untuk membahagiakan ibunya yang rela berkorban, sampai dia tidak memperhatikan kebahagiaanya sendiri. Dengan begini, Siti Rubayah, secara tidak langsung, tidak mengajarkan anaknya untuk mengambil keputusan sendiri dan menanggung konsekuensi, atas apa yang dia pilih. Keputusan Malin Kundang untuk pergi merantau pun sudah bisa diprediksi dengan dinamika hubungan seperti ini. Hal ini berlaku tidak hanya antara hubungan Ibu dan Anak, tapi juga pasangan atau pertemanan.

Merusak Diri Sendiri: Sang Ibu pun dalam hal ini juga merugi. Karena kebahagiaanya yang sangat bergantung terhadap kebahagiaan anaknya, ia tidak lagi merawat dirinya dan mencintai dirinya. Seolah-olah sang Ibu menjadi depresi setelah anaknya merantau. Kedepresiannya ini berasal dari keinginannya secara tidak disadari untuk mengontrol keberadaan anaknya, sedekat mungkin dari dia, tanpa mempertimbangkan kebahagiaan (keinginan) anaknya. Seharusnya dia bahagia jika anaknya bahagia, tanpa anaknya harus selalu berperilaku seperti yang dia harapkan. Dia menyakiti dirinya sendiri dan anaknya sekaligus dengan ketergantungannya. Di dalam hidup kita tidak bisa mengontrol orang lain, karena setiap orang mempunyai hak untuk memilih keputusannya. Yang bisa kita kontrol hanyalah emosi, pemikiran dan bagaimana kita merawat badan (rumah) kita.

Balas Dendam Lewat Doa

Saya sampai sekarang masih sangat sedih akan keputusan Siti Rubayah untuk membalas dendam terhadap perilaku anaknya Malin Kundang melalui doa. Membalas dendam tidak memperbaiki keadaan atau bahkan memberi pelajaran, terhadap seseorang yang bersalah.

Ketika kita membalas dendam, maka orang yang didendami ingin membalas dendam balik ke kita. Dan hal ini tidak akan berhenti, sampai salah satu dari mereka memaafkan atau mati. Tentu memaafkan adalah pilihan yang lebih dewasa, sedangkan balas dendam bisa dikatakan pemikiran yang cukup kekanak-kanakan.

Selain itu jika kita mencintai seseorang, sekaligus ingin membalas dendam terhadap mereka, maka itu bukanlah cinta yang nyata, melainkan keinginan untuk mengontrol. Karena kalau kita mencintai seseorang, maka kita tidak ingin menyakiti atau merusak kebahagiaan orang yang kita cintai. Kita ingin orang tersebut belajar dan berubah, serta bisa hidup bahagia, walau tanpa kita atau paling optimal dengan kita disampingnya.

Kata doa terlalu dilihat sangat suci (positiv)dan baik di Indonesia. Apakah itu doa yang suci dan baik, kalau kita berdoa, agar hidup seseorang yang kita sedang benci atau murkai jadi susah dan buruk? Bukankah seharusnya kita mendoakan orang tersebut untuk bisa belajar tentang perilakunya dan pengaruh dari perilakunya terhadap orang lain? Bukan hukuman atau ancaman untuk orang tersebut masuk neraka atau dikutuk jadi batu. Dengan begitu mungkin ceritanya bisa mempunyai akhir yang bahagia, karena Siti Rubayah dan Malin Kundang berhasil memperbaiki hubungan Ibu-Anak yang sudah sebelumnya rusak.

Pembelaan terhadap Malin Kundang

Saya disini ingin membela Malin Kundang. Karena saya merasa betapa pentingnya kita untuk memiliki pandangan yang berbeda, sampai sekarang saya belum pernah melihat sebuah artikel yang membela Malin. Sebagai anak Minang di rantau, saya kadang bisa mengerti kesulitan Malin sendiri, apalagi jika dikeluarga kurang keterampilan berkomunikasi dan berempati.

Apakah Malin Kundang Benar-Benar Durhaka?

Bisa jadi Malin Kundang pada saat itu harus berdiplomasi dan tidak bisa menunjukkan orang-orang terdekatnya atau kehidupan pribadinya dalam perjalanan, karena takut akan membahayakan bisnisnya. Seperti yang kita ketahui, bahwa orang-orang yang mempunyai uang yang banyak atau terkenal, seringkali dicari kehidupan sosialnya. Banyak yang ingin mengambil keuntungan dan memanfaatkan melalui orang-orang terdekat. Ini merupakan batasan-batasan emosional (Boundaries) yang harus dihargai dan dipahami untuk mempunyai hubungan yang sehat.

Seandainya Malin Kundang juga sangat sayang kepada Ibunya: Apakah keadaan Ibunya yang buruk akan membuatnya senang? Bisa jadi dia pada saat itu terkejut akan keadaan Ibunya dan sedih. Kemudian dia secara automatis menyalahkan dirinya sendiri dan merasa malu terhadap dirinya sendiri. Saking sakitnya perasaan Si Malin, dia akhirnya melampiaskan hal ini kepada Ibunya. Jadi marahnya sebenarnya bukan ditujukan kepada Ibunya, melainkan kepada dirinya sendiri. Namun karena mengakui kesedihan dan rasa malu terhadap diri sendiri pada saat itu, jauh lebih menyakitkan bagi Malin. Sehingga dia memperlakukan Ibunya dengan cara yang tidak sopan atau berkenan. Hal ini dinamakan Projeksi dalam ilmu psikologi. Dalam hal ini menurut saya kata durhaka bukanlah kata yang tepat, melainkan Malin Kundang adalah anak yang menyangkal perasaanya.

Hal janggal lainnya adalah, karena di dalam legenda ini ceritanya hanya melalui sudut pandang Ibu Malin Kundang, tapi tidak ada cerita melalui sudut pandang Malin Kundang sendiri. Ini tidak adil untuk Malin, karena semua yang kita baca adalah dari sudut pandang Ibunya Malin. Dengan kurangnya informasi dari pihak bersangkutan, kita tidak bisa memutuskan bahwa Malin anak "durhaka". Selain itu, bukankah bagaimana cara Siti Rubayah berbalas dendam kepada Malin Kundang melalui doa, membuat dia juga menjadi Ibu yang durhaka terhadap anaknya?

Apakah Menyalahkan dan Kata "Durhaka" Ada Manfaatnya?

Dalam bahasa Jerman ada istilah Schadenfreude: Senang melihat orang susah. Mungkin inilah perasaan yang kita punya, pada saat mendengar atau membaca legenda ini. Kenapa kita bahagia melihat orang susah? Bukankah seharusnya kita bahagia melihat orang juga bahagia. Karena kalau semakin banyak orang bahagia di atas dunia ini, dunia ini akan jadi lebih baik. Dengan begitu Schadenfreude bukannya bermanfaat, tapi malah merugikan, karena kalau semakin banyak orang disekitar kita yang tidak bahagia, maka hanya menunggu waktu untuk kesedihan dan kesusahan sampai kepada kita. Begitu pula sebaliknya.

Durhaka dan Dikutuk jadi Batu: dalam hal ini menurut KBBI artinya adalah ingkar terhadap perintah Tuhan. Malin Kundang sudah memohon maaf atas apa yang dia lakukan terhadap Ibunya kepada Tuhan. Apakah itu Tuhan yang baik, kalau hamba-Nya meminta maaf dan ingin berubah, dia tidak mau memberi kesempatan, tapi malah dikutuk jadi batu? Bagi saya itu bukan Tuhan Yang Maha Penyayang lagi Pengampun.

Lalu Siapa yang Salah? Bisa dibilang tidak ada yang salah. Melainkan kurangnya keterampilan berkomunikasi, kurangnya berempati, kurangnya cinta dan kejujuran terhadap diri sendiri, membuat dua manusia yang saling menyangi tidak bisa memiliki hubungan yang baik. Hal ini sangat tragis, karena kekurangan keterempalin berkomunikasi dan berempati jika terjadi zaman sekarang, dapat diasah dengan mengikuti psikoterapi dan ditambah dengan membaca buku psikologis serta latihan bersama teman, pasangan, kawan kerja, dll.

Akhir Lain untuk Legenda Malin Kundang

Kalau saya bisa menuliskan Legenda ini ulang, maka ceritanya akan menjadi:

Siti Rubiyah mendoakan anaknya supaya sadar. Dalam absen anaknya, Siti Rubiyah belajar akan pentingnya kemampuan untuk mencintai dirinya tanpa ketergantungan terhadap anaknya. Ia akhirnya punya kontak sosial dan tidak mengurung diri karena depresi ditinggal anankya. Melainkan dia berusaha mencari kebahagian dengan cara mungkin melakukan hobi atau keterampilan. Dengan begitu dia bisa menyimpan uang untuk hari tuanya. Kalau depresinya rasanya datang mendadak, dia bisa keluar dan berbincang-bincang dengan tetangganya tentang hal-hal positif dan indah dalam hidup ini selain punya anaknya. Seperti dia bisa hidup sampai tua dan menikmati matahari yang bersinar di pantai sambil makan ikan goreng dan minum air kelapa muda. Siti Rubiyah memaafkan dirinya sendiri karena tidak mempelajari hal ini terlebih dahulu.

Kemudian Malin Kundang yang juga punya anak bisa memahami, betapa pedih hati Ibunya pada saat dia pulang dan tak mengakui Ibunya. Sehingga dia meminta maaf kepada Ibunya dan mendapatkan pelajaran yang sangat mahal dan berharga. Mereka saling memaafkan dan yang paling penting adalah mereka saling memaafkan diri mereka sendiri. Dengan begitu mereka pun memiliki hubungan yang erat dan lebih baik dengan diri mereka sendiri dan automatis dengan orang-orang yang mereka sayangi. Ini menunjukkan kedewasaan secara emosional yang tinggi.

Orang yang tidak mencintai dan memaafkan diri sendiri, tidak bisa mencintai dan memaafkan orang lain.

Ini juga berdasarkan Filosofi Jepang: Kintsugi. Dimana orang Jepang memperbaiki mangkuk, piring atau gelas yang pecah pecah dengan emas. Contoh foto di bawah ini. Jadi karena mangkuk ini telah diperbaiki dengan emas yang mahal, maka mangkuk ini terlihat lebih indah dan memiliki harga yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Kintsugi cup
Photo by Motoki Tonn / Unsplash
Ini kalau tari piring, piring yang pecahnya diperbaiki pakai emas semua ala Kintsugi, dan dijual lagi, mungkin bisa untung banyak. #otakbisnis

Ethimologi Legenda Malin Kundang

Di Indonesia dapat ditemukan batu dari Malin Kundang di Pantai Manis, Sumatera Barat.

Di Malaysia legenda ini bernama Legenda Si Tanggang. Dan di Korea terdapat cerita yang sama The Tale of Shim Chong.


Sisa kuali untuk pesta untuk pernikahan Malin Kundang ( Legenda Sampuraga) di Madina, Sumatera Utara.


Sedangkan di Limandau, Kalimantan Tengah, terdapat sebuah Bukit yang menyerupai kapal terbalik. Bukit ini diberi nama Bukit Sampuraga.
Tidak kalah di Brunei legenda ini diberi nama Nakhoda Manis. Di Brunei kapal si Malin Kundang tenggelam. Kapal tersebut kemudian menyerupai Pulau yang bernama Jong Batu, di Sungai Brunei.

Bukit Sampuraga di Limandau, Kalimantan Tengah. Sumber: Wikipedia
Jong Batu di Sungai Brunei. Photo by: Nurhamiza Hj Roslan

Jong sendiri merupakan kapal sangat besar yang dibuat oleh orang Melayu dan Jawa.

Jong ini begitu besarnya, bahkan kapal (galleon) Portugis pun terlihat sangat kecil. Sumber: ASEAN Heritage and History

Disini saya melihat kesamaan yang cukup besar dengan Rumah Gadang di Sumatera Barat. Rumah Gadang sendiri merupakan Jong yang kemudian dijadikan rumah oleh kalangan masyarakat Minang.

Rumah Gadang (Gadang = Besar), Rumah Adat Masyarakat Minangkabau yang merupakan Kapal Jong, yang dijadikan rumah. Sumber: Kompas

Menurut pendapat saya legenda Malin Kundang bukanlah sebuah legenda, dimana kita dapat mempelajari sesuatu tentang kehidupan. Melainkan sebuah legenda bagi orang Austronesia yang pada dasarnya sangat suka melaut dan membangun kapal-kapal besar. Dalam bahasa saya legenda Malin Kundang merupakan bukti bahwa suku bajak laut masih ada.

Jadi legenda ini dibuat bukan untuk menakuti anak agar turut terhadap perintah orang tua atau agama, melainkan merupakan cerita dari mulut-kemulut yang ada bagi orang Austronesia.

Mungkin inilah cara suku pelaut Austronesia yang berdomisili diberbagai pulau atau tempat perantauan yang jauh dapat mengkonfirmasi pada masanya asal-usul ethnik mereka yang sama.

Kehidupaan Pelaut Austronesia

Orang Austronesia bersatu karena memiliki bahasa induk yang sama. Contoh bahasa Austronesia adalah Bahasa Malaysia, Bahasa Indonesia, Singapura, Brunei, Philipina, sebagian etnik di Taiwan, dan pulau Ryukyu di Jepang. Bagi yang suka menonton anime, mungkin bisa melihat kultur hidup orang Ryukyu yang pelaut di Samurai Champloo. Champloo ini orang pelaut yang suka jauh merantau dan pintar bela diri, layaknya pencak silat bagi orang Minang. Disini dikisahkan persahabatan antara seorang Samurai dan seorang Champloo.

Episode 1 dari anime Samurai Champloo. Dengan si Champloo yang merupakan anak pelaut dan perantau.

Orang Minang di dalam ini juga termasuk kedalam orang Austronesia dengan keinginan berlayar (merantau) yang sangat pekat dan kuat. Orang Minang bukanlah petani, melainkan pelaut yang bangga. Saya masih perlu mengkonfirmasi lagi, apakah semua orang Austronesia pelaut, atau ada pecahannya? Proto-Austronesia: Dayak, Kubu dan Mentawai, yang lebih suka berdiam di kepulauan dan menikmati hidup yang menyatu dengan tanah. Sedangkan orang Minang dan Melayu adalah Deutro-Austronesia yang memilih laut sebagai guru dan kapal sebagai rumah.

Melaut atau Merantau bagi Orang Minang

Photo by Rolands Varsbergs / Unsplash

Jadi merantau bagi orang Minang tidak bisa dihilangkan, karena sudah menjadi jati diri dan identitas kelompok masyarakat Minangkabau. Orang Minang yang tidak merantau, karena kulturnya, merasa tidak benar-benar Minang dan tidak bisa mewujudkan jati dirinya sendiri sebagai orang Minang yang sejati. Berbeda dengan orang dari etnik lain yang lebih suka menetap. Mereka tidak akan kehilangan identitas mereka sebagai orang dari etnik tersebut, jika mereka menetap dan tidak merantau.

Lalu, Siapa yang Membuat Aturan Etnik Ini?

Aturan ini telah ditetapkan oleh nenek moyang orang Minang sendiri. Disini saya juga sangat terkejut dengan kenyataan bahwa suku-suku yang ada di Minang tidak cuma orang asli Austronesia (Melayu) melainkan sudah campuran dari berbagai negara asing seperti Vietnam (Cham), India, Cina, Portugis, dan daerah Asia Tengah. Orang-orang asing ini juga merupakan orang pelaut dengan agama yang berbeda yang akhirnya menetap di daerah Sumatera Barat. Mereka bersama-sama membuat sebuah komunitas, yang mereka akhirnya namakan Minangkabau. Dan agar mereka tidak lupa akan asal-usul mereka, maka dibagilah orang Minang dengan suku-suku awal:

  1. Bodi-Chaniago = Budha
  2. Koto-Piliang = Hindu

Kemudian datang orang asing lainnya dari Champa (Vietnam); suku Jambak (Melayu Tua), dan orang India; suku Sikumbang. Kebanyakan orang Champa juga berdomisili di Aceh.

Jadi bisa dikatakan orang Minang adalah orang pelaut asing dan pelaut Austronesia yang menetap di Sumatera Barat dan menyebar ke seluruh Sumatera atau Indonesia. Mereka hidup rukun di Minang dan bersatu menjadi orang Minangkabau.

Saya disini bisa pahami, mengapa orang Minang dulu ingin memisahkan diri dari NKRI. Mereka mungkin merasa orang asing dan tidak benar-benar Austronesia, layaknya orang Indonesia asli Austronesia. Tapi, ini bukanlah hal yang saya inginkan. Semakin ramai dan beragam kita, semakin kaya Indonesia dengan kearifan dan budaya. Semakin multi-kulti dan internasional orang Indonesia.

Kultur Pelaut: Kenapa Orang Minang Matrilinieal?

Zaman dulu yang jadi pelaut biasanya laki-laki. Perempuan dan anak-anak menetap di kampung halaman. Dan laki-laki yang mau merantau wajib mempelajari ilmu bela diri seperti Pencak Silat, agar nanti jikalau berada disituasi bahaya tanpa sanak-saudara bisa membala diri sendiri.

Dikarenakan tingginya risiko pelaut pada masa itu dan tidak sedikit pelaut yang tidak pulan ke kampung karena mungkin kapalnya tenggelam, terdampar atau akhirnya menetap di pulau lain. Maka sepakatlah orang Minang kalau garis keturunan dan juga rumah dan hasil pencarian diperantauan menjadi milik wanita. Laki-laki dianggap akhirnya menjadi tamu, karena kalau merantau lagi dan tak kembali bisa hilang harta warisan dan keturunan.

Merantau diambang Era Modern: Pebisnis atau Bajak Laut

Orang Minang yang dulunya suka merantau dapat menjadi pelaut andal. Lalu teknologi kapal semakin canggih dan manusia pun semakin banyak. Pada akhirnya, orang Minang harus juga beradaptasi dengan persaingan perlautan yang semakin tinggi. Sebagian dari orang pelaut ini melakukan hal illegal, dan berakhir menjadi bajak laut. Sebagian lagi yang bisa melakukan transaksi kelautannya secara legal, menjadi pebisnis handal. Jadi merantau dan bisnis di ambang era modern bagi masyarakat Minangkabau adalah standard pencapaian yang tinggi.

Apa Masih Ada Bajak Laut?

Terdengar lucu dan agak nyeleneh. Banyak orang Indonesia yang tidak tahu bahwa bajak laut terberbahaya di atas Bumi pada saat ini, bisa ditemukan di laut antara Batam, Sumatera, Singapura dan Malaysia. Hal ini diberitakan oleh koran atau majalah TIME sendiri. Ini adalah bukti yang kuat bahwasanya orang Austronesia banyak yang menjadi pelaut, baik legal maupun illegal.

Lagu tentang kenyataan bahwa nenek moyang kita memang pelaut pemberani. Mainkan lagu ini sambil membaca artikel saya. Mudah-mudahan anda bisa merasakan hype-nya.

Ketika saya masih kecil lagu kesukaan saya adalah Aku Seorang Kapiten. Saya sejak kecil selalu tertarik dengan laut dan ingin berlayar. Setelah saya pelajari, hal ini sudah menjadi darah daging orang Austronesia: Malaysia, Indonesia, Brunei, Taiwan, Hawai, Japan, Samoan, Selandia Baru, dan orang kepulauan lainnya. Bisa dikatakan saya selalu bermimpi untuk bisa menjadi pelaut (atau bajak laut) yang handal.

Bajak Laut Wanita di Asia

Salah satu bajak laut wanita favorit saya adalah Bajak Laut Ching Shih. Dia merupakan wanita cantonese. Cantonese sendiri merupakan bahasa dari Sino-Tibetan dan termasuk kedalam Proto-Austronesia. Sama dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia yang juga berasal dari Proto-Austronesia. Setahu saya orang cantonese sama dengan orang Indonesia dan Malaysia memiliki darah dari turunan ibu yang sama Austronesia, tapi dengan campuran darah ayah Cina.

Ching Shih: The Pirate Widow Menace of the South China Sea

Orang Minang Pebisnis Handal

Businessman opening a paper
Photo by Adeolu Eletu / Unsplash

Diambang Era Modern standard hidup pelaut pun jadi lebih tinggi. Sedangkan orang Minang yang suka merantau dan suka ambil resiko tinggi dengan adanya kapal yang lebih baik merasa kurang tertantang. Sedangkan sudah dari turun-temurun berpetualang dalam merantau menjadi kepuasan bagi masyarakat Minangkabau. Tidak heran banyak orang Minang yang memilih jalur hidup untuk menjadi pebisnis.

Sebagai pebisnis mereka bisa mengisi lubang kekurangan ambil risiko tinggi yang ada pada masa melaut, sebelum canggihnya transportasi. Jadi ini juga sudah bisa diprediksi. Untuk menjadi pebisnis yang hebat, seseorang harus suka juga mengambil dan bermain dengan resiko yang besar. Cocok sekali dengan cara hidup seorang pelaut.

Merantau di Era Modern semakin Komplex

Just Arrived
Photo by Vidar Nordli-Mathisen / Unsplash

Dizaman yang penuh dengan globalisasi dan sistem sosial dan ekonomi yang semakin komplex. Kultur Merantau Minangkabau butuh revolusi lagi dan harus beradaptasi lagi. Banyak dari orang Minang yang masih tinggal di Sumatera Barat dan tidak merantau menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada pada ambang era modern. Namun sekarang ini kita naik level lagi tingkat kesulitannya, seperti kalau main game naik level.

Dizamannya Malin Kundang, orang Minang bisa pergi merantau begitu saja dan belajar dirantau. Peraturan negara, visum, burokrasi, sistem sosial, pada saat ini masih sederhana dan belum sekomplex di era modern. Banyak orang pelaut Austronesia yang menganggap merantau dizaman modern sama seperti sebelum adanya teknologi canggih seperti komputer atau internet.

Bekal Merantau Bertambah Banyak

Photo by Gabrielle Henderson / Unsplash

Intinya merantau dizaman modern tidak bisa lagi hanya berbekal baju secukupnya, tas ransel, dan uang secukupnya. Untuk merantau di zaman ini, sebelumnya kita harus bisa menguasai bahasa di perantauan, karena kita akan banyak sekali menggunakan bahasa asing diperantauan untuk mengurus berbagai macam dokumentasi dan burokrasi. Tidak hanya itu saja, dengan adanya teknologi yang bisa menghubungkan kita dengan orang-orang dari kampung halaman, kadang juga membawa kerugian tersendiri. Seperti misalnya, banyak orang yang merantau tidak bisa berintegrasi dengan budaya diperantauan. Hal ini menentang filosofi adat perantau Minang: "Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung." Artinya, kita harus menghargai kebudayaan baru dirantau dan berintegrasi dengan kebudayaan tersebut.

Banyak orang yang merantau ingin agar budayanya tetap bertahan, seolah-olah hanya ada satu budaya yang benar dan bagus diatas bumi ini. Karena budaya merupakan buatan manusia, maka tidak ada budaya yang sempurna. Oleh karena itu, diperantauan sangat diuji toleransi kita sebagai orang asing. Kadang orang asing dianggap remeh, kadang dianggap luar biasa, kadang biasa saja. Jadi yang merantau bisa mengasah keterampilan sosialnya lebih dalam. Seperti bagaimana seandainya jika kita berinteraksi dengan orang-orang sulit, tanpa harus merasa tertindas.

Perempuan Minang Modern juga Rajin Merantau

Jaman dulu dengan pembagian harta secara matrilineal itu memang menguntungkan, kalau seandainya hanya pria saja yang merantau. Di zaman modern ini dengan semakin aman dan canggihnya transportasi udara, perempuan Minang juga bisa merantau dan pulang kampung. Jadi keturunan berdasarkan ibu disini bisa dipertimbangkan untuk direvolusi. Laki-laki juga diberikan berhak untuk menerima warisan di Minangkabau jika saudara-saudara perempuannya yang merantau, seperti halnya yang terjadi pada keluarga saya.

Selain itu juga saya berpendapat bahwa anak gadis Minang juga wajib diajarkan untuk bisa pencak silat sebagai bekal bela diri di rantau, tidak cuma laki-laki saja. Kemampuan untuk bela diri seperti pencak silat akan memberikan perempuan Minang Muda kepercayaan diri yang sehat, serta tidak takut untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru dan bisa membela diri sendiri, jika berada dalam bahaya. Selain itu perempan Minang juga bisa belajar banyak filosofi hidup dengan belajar pencak silat. Filosofi hidup ini akan menjadi bekal untuk jiwa, jika dalam berada kesusahan.

Masa Depan Merantau di Era Digital dan Teknologi Tinggi

Photo by NASA / Unsplash

Dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi dan transportasi. Saya yakin, kalau seandainya perang dunia ke-3 tidak terjadi, maka kita suatu saat nanti contohnya bisa terbang dari Indonesia ke Jerman dalam waktu 2 jam saja. Dengan begitu mungkin suatu saat manusia diseluruh dunia memiliki bahasa dan budaya yang sama. Hanya mungkin beda sedikit.

Bisa dikatakan bahwa suatu saat nanti merantau antar negara bukanlah hal yang sulit lagi atau bahkan juga tidak perlu. Teknologi seperti hologram pun juga semakin berkembang dan kita bisa berkoneksi dengan seluruh orang yang ada di dunia, selama internet dan energi listrik masih ada.

Merantau berikutnya adalah interplanetorial atau keluar angkasa dan juga mungkin kedalam laut dan bumi. Sekitar 90% dari laut masih belum kita ketahui. Mengenai keberangkatan ke planet lain seperti Mars, itupun juga sudah dekat. Jadi merantau tidak akan hanya berhenti bagi orang Minang sampai ke negara lain, tapi lebih jauh lagi. Mungkin bisa juga dalam science fiction dengan portal, atau time travel dianggap sebagai merantau.

Satu Pelajaran Besar yang Saya dapat di Perantauan

Ketika saya kecil orang tua saya seringkali memutar lagu Minang. Hal ini kadang membuat saya cukup kesal dan saya merasa sangat kuno dengan hal ini. Saya dulu menganggap apa yang ada di kultur Minang ini biasa-biasa saja dan tidak ada yang spesial. Saya malah layaknya orang Minang kebanyakan ingin merantau jauh karena merasa tidak ada yang menarik dari budaya pelaut Indonesia sendiri.

Minang sekali suasana disini. 

Setelah beberapa tahun tinggal di Jerman saya sekarang melihat Indonesia dengan lebih jelas dari sebelumnya. Layaknya, ketika di Indonesia, telapak tangan dan mata saya begitu dekat, sehingga mata saya tertutup dan tidak bisa melihat keberagaman dan keindahan Indonesia. Sekarang di Jerman, telapak tangan sudah cukup jauh sehingga mata saya bisa melihat telapak tangan, sebagai telapak tangan dan bukan kelam lagi. Ujung-ujungnya saya jadi sibuk mendengarkan lagu-lagu Minang di YouTube. Dulu saya pikir kuno, sekarang saya mengerti kenapa hal ini bukan kuno, tapi punya efek psikis yang besar untuk mengobati kerinduan, terutama dikala Lockdown Pandemi Covid-19.

Saya menjadi bangga dan sangat menghargai kultur Indonesia yang beragam, indah dan sangat eksotis. Jika saya tidak pernah merantau jauh, mungkin saya tidak bisa melihat keindahan Indonesia dan budaya saya sendiri sebagai orang Minang. Saya bersyukur sekali, dapat pergi merantau jauh, menuntut ilmu dan mempelajari banyak hal tentang dunia dan asal-usul saya sendiri. Merantau tidak mudah, tapi ilmu yang didapat atau dipelajari diperantauan jauh lebih berharga daripada uang.

Jujur, saya sebenarnya menulis mengenai hal ini dikarenakan rindu saya yang sangat besar terhadap Indonesia. Selain itu, karena saya sudah cukup lama di perantauan dan tidak pulang-pulang, saya merasa kalau saya kehilangan identitas saya sebagai orang Indonesia. Saat ini saya lebih merasa menjadi anggota masyarakat dunia, daripada cuma jadi orang Indonesia saja.

Saya juga menyadari kalau saya tidak memiliki banyak pengetahuan mengenai asal-usul keluarga saya di Indonesia. Hal ini membuat saya senang membaca sejarah mengenai asal-usul berbagai macam ethnik di dunia. Dengan mempelajari Anthrophologi atau Sejarah dan Kultur saya bisa merasakan koneksi yang kuat antara manusia yang ada di seluruh dunia. Hal ini sangat membantu saya dalam menyatu dengan orang-orang dari berbagai ethnik.

Bagi yang kangen pulang kampung, bisa mainkan lagu ini.

MarantauMinangkabauRelatonshipAnthropology

Cindy Yoseffa

Cindy is a medical student from Indonesia at LMU/TU in Munich, Germany. She also has a YouTube Channel and is hosting a Podcast: Parva et Magna.