Legenda Malin Kundang: Kultur Pelaut Austronesia

Legenda Malin Kundang: Kultur Pelaut Austronesia

Ini merupakan kumpulan research antropologi tentang asal usul legenda Malin Kundang yang saya baca dan rangkum.

Cindy Yoseffa
Cindy Yoseffa
β€’ 10 min read

Table of Contents

Ethimologi Legenda Malin Kundang

Di Indonesia dapat ditemukan batu dari Malin Kundang di Pantai Manis, Sumatera Barat.

Di Malaysia legenda ini bernama Legenda Si Tanggang. Dan di Korea terdapat cerita yang sama The Tale of Shim Chong.


Sisa kuali untuk pesta untuk pernikahan Malin Kundang ( Legenda Sampuraga) di Madina, Sumatera Utara. Sumber: CNN Indonesia dan correcto.id

Prasasti Kolam Air Panas Sampuraga, Desa Sirambas, Panyabungan, Mandailing Natal

Sedangkan di Limandau, Kalimantan Tengah, terdapat sebuah Bukit yang menyerupai kapal terbalik. Bukit ini diberi nama Bukit Sampuraga.
Tidak kalah di Brunei legenda ini diberi nama Nakhoda Manis. Di Brunei kapal si Malin Kundang tenggelam. Kapal tersebut kemudian menyerupai Pulau yang bernama Jong Batu, di Sungai Brunei.

Bukit Sampuraga di Limandau, Kalimantan Tengah. Sumber: Wikipedia

Jong sendiri merupakan kapal sangat besar yang dibuat oleh orang Melayu dan Jawa. Jong ini begitu besarnya, bahkan kapal (galleon) Portugis pun terlihat sangat kecil. Sumber: ASEAN Heritage and History.


Disini saya melihat kesamaan yang cukup besar dengan Rumah Gadang di Sumatera Barat. Rumah Gadang sendiri merupakan Jong yang kemudian dijadikan rumah oleh kalangan masyarakat Minang.

Istana Silinduang Bulan: Rumah Gadang (Gadang = Besar), Rumah Adat Masyarakat Minangkabau yang merupakan Kapal Jong, yang dijadikan rumah.

Menurut pendapat saya legenda Malin Kundang bukanlah sebuah legenda, dimana kita dapat mempelajari sesuatu tentang kehidupan. Melainkan sebuah legenda bagi orang Austronesia yang pada dasarnya sangat suka melaut dan membangun kapal-kapal besar. Dalam bahasa saya legenda Malin Kundang merupakan bukti bahwa suku bajak laut masih ada.

Jadi legenda ini dibuat bukan untuk menakuti anak agar turut terhadap perintah orang tua atau agama, melainkan merupakan cerita dari mulut-kemulut yang ada bagi orang Austronesia.

Mungkin inilah cara suku pelaut Austronesia yang berdomisili diberbagai pulau atau tempat perantauan yang jauh dapat mengkonfirmasi pada masanya asal-usul ethnik mereka yang sama.

Kehidupaan Pelaut Austronesia

Orang Austronesia bersatu karena memiliki bahasa induk yang sama. Contoh bahasa Austronesia adalah Bahasa Malaysia, Bahasa Indonesia, Singapura, Brunei, Philipina, sebagian etnik di Taiwan, dan pulau Ryukyu di Jepang. Bagi yang suka menonton anime, mungkin bisa melihat kultur hidup orang Ryukyu yang pelaut di Samurai Champloo. Champloo ini orang pelaut yang suka jauh merantau dan pintar bela diri, layaknya pencak silat bagi orang Minang. Disini dikisahkan persahabatan antara seorang Samurai dan seorang Champloo.

Episode 1 dari anime Samurai Champloo. Dengan si Champloo yang merupakan anak pelaut dan perantau.

Orang Minang di dalam ini juga termasuk kedalam orang Austronesia dengan keinginan berlayar (merantau) yang sangat pekat dan kuat. Orang Minang bukanlah petani, melainkan pelaut yang bangga. Saya masih perlu mengkonfirmasi lagi, apakah semua orang Austronesia pelaut, atau ada pecahannya? Proto-Austronesia: Dayak, Kubu dan Mentawai, yang lebih suka berdiam di kepulauan dan menikmati hidup yang menyatu dengan tanah. Sedangkan orang Minang dan Melayu adalah Deutro-Austronesia yang memilih laut sebagai guru dan kapal sebagai rumah.

Melaut atau Merantau bagi Orang Minang

Photo by Rolands Varsbergs / Unsplash

Jadi merantau bagi orang Minang tidak bisa dihilangkan, karena sudah menjadi jati diri dan identitas kelompok masyarakat Minangkabau. Orang Minang yang tidak merantau, karena kulturnya, merasa tidak benar-benar Minang dan tidak bisa mewujudkan jati dirinya sendiri sebagai orang Minang yang sejati. Berbeda dengan orang dari etnik lain yang lebih suka menetap. Mereka tidak akan kehilangan identitas mereka sebagai orang dari etnik tersebut, jika mereka menetap dan tidak merantau.

Lalu, Siapa yang Membuat Aturan Etnik Ini?

Aturan ini telah ditetapkan oleh nenek moyang orang Minang sendiri. Disini saya juga sangat terkejut dengan kenyataan bahwa suku-suku yang ada di Minang tidak cuma orang asli Austronesia (Melayu) melainkan sudah campuran dari berbagai negara asing seperti Vietnam (Cham), India, Cina, Portugis, dan daerah Asia Tengah. Orang-orang asing ini juga merupakan orang pelaut dengan agama yang berbeda yang akhirnya menetap di daerah Sumatera Barat. Mereka bersama-sama membuat sebuah komunitas, yang mereka akhirnya namakan Minangkabau. Dan agar mereka tidak lupa akan asal-usul mereka, maka dibagilah orang Minang dengan suku-suku awal:

  1. Bodi-Chaniago = Budha β†’ Egalitarian
  2. Koto-Piliang = Hindu β†’ Aristokrat

Kemudian datang orang asing lainnya dari Champa (Vietnam); suku Jambak (Melayu Tua), dan orang India; suku Sikumbang. Kebanyakan orang Champa juga berdomisili di Aceh.

Jadi bisa dikatakan orang Minang adalah orang pelaut asing dan pelaut Austronesia yang menetap di Sumatera Barat dan menyebar ke seluruh Sumatera atau Indonesia. Mereka hidup rukun di Minang dan bersatu menjadi orang Minangkabau.

Saya disini bisa pahami, mengapa orang Minang dulu ingin memisahkan diri dari NKRI. Mereka mungkin merasa orang asing dan tidak benar-benar Austronesia, layaknya orang Indonesia asli Austronesia. Tapi, ini bukanlah hal yang saya inginkan. Semakin ramai dan beragam kita, semakin kaya Indonesia dengan kearifan dan budaya. Semakin multi-kulti dan internasional orang Indonesia.

Kultur Pelaut: Kenapa Orang Minang Matrilinieal?

Zaman dulu yang jadi pelaut biasanya laki-laki. Perempuan dan anak-anak menetap di kampung halaman. Dan laki-laki yang mau merantau wajib mempelajari ilmu bela diri seperti Pencak Silat, agar nanti jikalau berada disituasi bahaya tanpa sanak-saudara bisa membala diri sendiri.

Dikarenakan tingginya risiko pelaut pada masa itu dan tidak sedikit pelaut yang tidak pulan ke kampung karena mungkin kapalnya tenggelam, terdampar atau akhirnya menetap di pulau lain. Maka sepakatlah orang Minang kalau garis keturunan dan juga rumah dan hasil pencarian diperantauan menjadi milik wanita. Laki-laki dianggap akhirnya menjadi tamu, karena kalau merantau lagi dan tak kembali bisa hilang harta warisan dan keturunan.

Merantau diambang Era Modern: Pebisnis atau Bajak Laut

Orang Minang yang dulunya suka merantau dapat menjadi pelaut andal. Lalu teknologi kapal semakin canggih dan manusia pun semakin banyak. Pada akhirnya, orang Minang harus juga beradaptasi dengan persaingan perlautan yang semakin tinggi. Sebagian dari orang pelaut ini melakukan hal illegal, dan berakhir menjadi bajak laut. Sebagian lagi yang bisa melakukan transaksi kelautannya secara legal, menjadi pebisnis handal. Jadi merantau dan bisnis di ambang era modern bagi masyarakat Minangkabau adalah standard pencapaian yang tinggi.

Apa Masih Ada Bajak Laut?

Terdengar lucu dan agak nyeleneh. Banyak orang Indonesia yang tidak tahu bahwa bajak laut terberbahaya di atas Bumi pada saat ini, bisa ditemukan di laut antara Batam, Sumatera, Singapura dan Malaysia. Hal ini diberitakan oleh koran atau majalah TIME sendiri. Ini adalah bukti yang kuat bahwasanya orang Austronesia banyak yang menjadi pelaut, baik legal maupun illegal.

Lagu tentang kenyataan bahwa nenek moyang kita memang pelaut pemberani. Mainkan lagu ini sambil membaca artikel saya. Mudah-mudahan anda bisa merasakan hype-nya.

Ketika saya masih kecil lagu kesukaan saya adalah Aku Seorang Kapiten. Saya sejak kecil selalu tertarik dengan laut dan ingin berlayar. Setelah saya pelajari, hal ini sudah menjadi darah daging orang Austronesia: Malaysia, Indonesia, Brunei, Taiwan, Hawai, Japan, Samoan, Selandia Baru, dan orang kepulauan lainnya. Bisa dikatakan saya selalu bermimpi untuk bisa menjadi pelaut (atau bajak laut) yang handal.

Bajak Laut Wanita di Asia

Salah satu bajak laut wanita favorit saya adalah Bajak Laut Ching Shih. Dia merupakan wanita cantonese. Cantonese sendiri merupakan bahasa dari Sino-Tibetan dan termasuk kedalam Proto-Austronesia. Sama dengan Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia yang juga berasal dari Proto-Austronesia. Setahu saya orang cantonese sama dengan orang Indonesia dan Malaysia memiliki darah dari turunan ibu yang sama Austronesia, tapi dengan campuran darah ayah Cina.

Ching Shih: The Pirate Widow Menace of the South China Sea

Orang Minang di Bidang Bisnis

Businessman opening a paper
Photo by Adeolu Eletu / Unsplash

Diambang Era Modern standard hidup pelaut pun jadi lebih tinggi. Sedangkan orang Minang yang suka merantau dan suka ambil resiko tinggi dengan adanya kapal yang lebih baik merasa kurang tertantang. Sedangkan sudah dari turun-temurun berpetualang dalam merantau menjadi kepuasan bagi masyarakat Minangkabau. Tidak heran banyak orang Minang yang memilih jalur hidup untuk menjadi pebisnis.

Sebagai pebisnis mereka bisa mengisi lubang kekurangan ambil risiko tinggi yang ada pada masa melaut, sebelum canggihnya transportasi. Jadi ini juga sudah bisa diprediksi. Untuk menjadi pebisnis yang hebat, seseorang harus suka juga mengambil dan bermain dengan resiko yang besar. Cocok sekali dengan cara hidup seorang pelaut.

Merantau di Era Modern Semakin Komplex

Just Arrived
Photo by Vidar Nordli-Mathisen / Unsplash

Dizaman yang penuh dengan globalisasi dan sistem sosial dan ekonomi yang semakin komplex. Kultur Merantau Minangkabau butuh revolusi lagi dan harus beradaptasi lagi. Banyak dari orang Minang yang masih tinggal di Sumatera Barat dan tidak merantau menjunjung tinggi nilai-nilai yang ada pada ambang era modern. Namun sekarang ini kita naik level lagi tingkat kesulitannya, seperti kalau main game naik level.

Dizamannya Malin Kundang, orang Minang bisa pergi merantau begitu saja dan belajar dirantau. Peraturan negara, visum, burokrasi, sistem sosial, pada saat ini masih sederhana dan belum sekomplex di era modern. Banyak orang pelaut Austronesia yang menganggap merantau dizaman modern sama seperti sebelum adanya teknologi canggih seperti komputer atau internet.

Bekal Merantau Bertambah Banyak

Photo by Gabrielle Henderson / Unsplash

Intinya merantau dizaman modern tidak bisa lagi hanya berbekal baju secukupnya, tas ransel, dan uang secukupnya. Untuk merantau di zaman ini, sebelumnya kita harus bisa menguasai bahasa di perantauan, karena kita akan banyak sekali menggunakan bahasa asing diperantauan untuk mengurus berbagai macam dokumentasi dan burokrasi. Tidak hanya itu saja, dengan adanya teknologi yang bisa menghubungkan kita dengan orang-orang dari kampung halaman, kadang juga membawa kerugian tersendiri. Seperti misalnya, banyak orang yang merantau tidak bisa berintegrasi dengan budaya diperantauan. Hal ini menentang filosofi adat perantau Minang: "Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung." Artinya, kita harus menghargai kebudayaan baru dirantau dan berintegrasi dengan kebudayaan tersebut.

Banyak orang yang merantau ingin agar budayanya tetap bertahan, seolah-olah hanya ada satu budaya yang benar dan bagus diatas bumi ini. Karena budaya merupakan buatan manusia, maka tidak ada budaya yang sempurna. Oleh karena itu, diperantauan sangat diuji toleransi kita sebagai orang asing. Kadang orang asing dianggap remeh, kadang dianggap luar biasa, kadang biasa saja. Jadi yang merantau bisa mengasah keterampilan sosialnya lebih dalam. Seperti bagaimana seandainya jika kita berinteraksi dengan orang-orang sulit, tanpa harus merasa tertindas.

Perempuan Minang Modern juga Rajin Merantau

Jaman dulu dengan pembagian harta secara matrilineal itu memang menguntungkan, kalau seandainya hanya pria saja yang merantau. Di zaman modern ini dengan semakin aman dan canggihnya transportasi udara, perempuan Minang juga bisa merantau dan pulang kampung. Jadi keturunan berdasarkan ibu disini bisa dipertimbangkan untuk direvolusi. Laki-laki juga diberikan berhak untuk menerima warisan di Minangkabau jika saudara-saudara perempuannya yang merantau, seperti halnya yang terjadi pada keluarga saya.

Selain itu juga saya berpendapat bahwa anak gadis Minang juga wajib diajarkan untuk bisa pencak silat sebagai bekal bela diri di rantau, tidak cuma laki-laki saja. Kemampuan untuk bela diri seperti pencak silat akan memberikan perempuan Minang Muda kepercayaan diri yang sehat, serta tidak takut untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru dan bisa membela diri sendiri, jika berada dalam bahaya. Selain itu perempan Minang juga bisa belajar banyak filosofi hidup dengan belajar pencak silat. Filosofi hidup ini akan menjadi bekal untuk jiwa, jika dalam berada kesusahan.

Minangkabau knife karambit fencing dancers (Tukang Mancak) on the west coast of Sumatra, 1897.

Masa Depan Merantau di Era Digital dan Teknologi Tinggi

Photo by NASA / Unsplash

Dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi dan transportasi. Saya yakin, kalau seandainya perang dunia ke-3 tidak terjadi, maka kita suatu saat nanti contohnya bisa terbang dari Indonesia ke Jerman dalam waktu 2 jam saja. Dengan begitu mungkin suatu saat manusia diseluruh dunia memiliki bahasa dan budaya yang sama. Hanya mungkin beda sedikit.

Bisa dikatakan bahwa suatu saat nanti merantau antar negara bukanlah hal yang sulit lagi atau bahkan juga tidak perlu. Teknologi seperti hologram pun juga semakin berkembang dan kita bisa berkoneksi dengan seluruh orang yang ada di dunia, selama internet dan energi listrik masih ada.

Merantau berikutnya adalah interplanetorial atau keluar angkasa dan juga mungkin kedalam laut dan bumi. Sekitar 90% dari laut masih belum kita ketahui. Mengenai keberangkatan ke planet lain seperti Mars, itupun juga sudah dekat. Jadi merantau tidak akan hanya berhenti bagi orang Minang sampai ke negara lain, tapi lebih jauh lagi. Mungkin bisa juga dalam science fiction dengan portal, atau time travel dianggap sebagai merantau.

Satu Pelajaran Besar yang Saya Dapat di Perantauan

Ketika saya kecil orang tua saya seringkali memutar lagu Minang. Hal ini kadang membuat saya cukup kesal dan saya merasa sangat kuno dengan hal ini. Saya dulu menganggap apa yang ada di kultur Minang ini biasa-biasa saja dan tidak ada yang spesial. Saya malah layaknya orang Minang kebanyakan ingin merantau jauh karena merasa tidak ada yang menarik dari budaya pelaut Indonesia sendiri.

Minang sekali suasana disini. 

Setelah beberapa tahun tinggal di Jerman saya sekarang melihat Indonesia dengan lebih jelas dari sebelumnya. Layaknya, ketika di Indonesia, telapak tangan dan mata saya begitu dekat, sehingga mata saya tertutup dan tidak bisa melihat keberagaman dan keindahan Indonesia. Sekarang di Jerman, telapak tangan sudah cukup jauh sehingga mata saya bisa melihat telapak tangan, sebagai telapak tangan dan bukan kelam lagi. Ujung-ujungnya saya jadi sibuk mendengarkan lagu-lagu Minang di YouTube. Dulu saya pikir kuno, sekarang saya mengerti kenapa hal ini bukan kuno, tapi punya efek psikis yang besar untuk mengobati kerinduan, terutama dikala Lockdown Pandemi Covid-19.

Saya menjadi bangga dan sangat menghargai kultur Indonesia yang beragam, indah dan sangat eksotis. Jika saya tidak pernah merantau jauh, mungkin saya tidak bisa melihat keindahan Indonesia dan budaya saya sendiri sebagai orang Minang. Saya bersyukur sekali, dapat pergi merantau jauh, menuntut ilmu dan mempelajari banyak hal tentang dunia dan asal-usul saya sendiri. Merantau tidak mudah, tapi ilmu yang didapat atau dipelajari diperantauan jauh lebih berharga daripada uang.

Jujur, saya sebenarnya menulis mengenai hal ini dikarenakan rindu saya yang sangat besar terhadap Indonesia. Selain itu, karena saya sudah cukup lama di perantauan dan tidak pulang-pulang, saya merasa kalau saya kehilangan identitas saya sebagai orang Indonesia. Saat ini saya lebih merasa menjadi anggota masyarakat dunia, daripada cuma jadi orang Indonesia saja.

Saya juga menyadari kalau saya tidak memiliki banyak pengetahuan mengenai asal-usul keluarga saya di Indonesia. Hal ini membuat saya senang membaca sejarah mengenai asal-usul berbagai macam ethnik di dunia. Dengan mempelajari Anthrophologi atau Sejarah dan Kultur saya bisa merasakan koneksi yang kuat antara manusia yang ada di seluruh dunia. Hal ini sangat membantu saya dalam menyatu dengan orang-orang dari berbagai ethnik.

Bagi yang kangen pulang kampung, bisa mainkan lagu ini.

MinangkabauAnthropology

Cindy Yoseffa

Cindy is a medical student from Indonesia at LMU/TU in Munich, Germany. She also has a YouTube Channel and is hosting a Podcast: Parva et Magna.